Tuhan pernah mengatakan:” Wahai para malaikat, lihatlah hamba-hambaku, sesungguhnya aku telah mengampuni dosa-dosa mereka”. Ini dikatakan saat umat islam telah merampungkan puasa ramadhan, dan pada detik-detik sholat idul fitri. Betapa Agung pengampunan-Nya. Betapapun besar dosa-dosa yang dilakukan oleh hamba, Allah tetap membuka pintu maaf, kecuali mereka yang tidak mau bertaubat, dan masih berbuat dholim.
Ada tiga dosa besar yang tidak diperkenankan masuk surga, kecuali telah bertaubat kepada-Nya. Di antara tiga orang tersebut ialah pemutus tali persaudaraan atau yang disebut dengan Qotiu al-Rahmi. Qatiu Al Rahmi berasal dari bahasa Arab, artinya memutus silaturahmi. Menurut pengertinya ”orang mukmin yang bersaudara, tetapi karena ada permasalah, maka dengan cepat memutuskan tali persaudaraan dengan tidak saling menyapa (satru). Indikasi Qotiu Al Rohmi karena banyak faktor, akan tetapi yang paling dominan adalah persoalan materi; mislanya warisan, utang piutang, wanita; merebut cinta orang lain, mengaggu istri orang lain, kekuasaan atau jabatan; misalnya iri dengan kedudukan jabataan, perbutan posisi.
Fenomena saat ini, sering kita temuakan antara tentangga tidak menyapa karena urusan utang, urusan wangkit ( pagar), rebutan lahan parkir. Dikalangan elit, banyak yang berebut posisi (kursi), atau rebutan jabatan. Sehingga menimbulkan dampak yang negatif. Di kalangan partai politik, banyak yang rebutan posisi ketua, sekjen sehingga menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan partainya.
Adakalanya perseteruan ini hingga menimbulkan satru (tidak saling) menyapa sesama muslim atau bersaudara saling membenci, silaturahmi terputus. Adakalanya dikarenakan sebuah perceraian, muncul rasa benci bahkan dendam, sehingga putus silturahmi. Qotiu Al Rahmi, yang dibenci oleh Allah adalah karena rasa sombong, tidak ada kemauan memaafkan. Jika ini terjadi, maka Allah SWT telah menyiapkan tempat di akhirat kelak yaitu di Neraka. Andaikata, seseorang beribadah siang dan malam, dijidatnya terlihat hitam karena banyak bersujud, bersedekah setiap saat, akan tetapi mereka suka memutuskan silaturahmi, bahkan sudah menjadi hobi, maka Allah tidak akan menerimanya sampai mereka bertaubat.
Hadis Nabi mengisaratkan seputar pemutus silaturahmi yang berbunyi ”
عن أبي جرير أن أبا بردة حدثه عن حديث أبي موسى رضي الله عنه : أن النبي صلى الله عليه و سلم قال : ثلاثة لا يدخلون الجنة : مدمن الخمر و قاطع الرحم مصدق بالسحر (رواه الحاكم رقم 7234)
Artinya “ diriwayatkan oleh Abi Jarir bahwasanya Aba burdah menceritakan dari hadis abi Musa RA, bahwasanya Nabi SAW mengatakan;’’ peminum khomer (pemabuk), pemutus silaturahmi, menyetujui sihir.
Tiga orang sangat membahayakan, yakni pemabuk, seperti minum arak, ekstasi, sabu-sabu, ganja. Kemudian, pemutus seduluran, artinya tidak mau memanafkan, bahkan hatiya tetutup, sering menyakiti tetangga, kerabat dengan tidak menyapa.Kemudian orang-orang yang kong kalikong dengn tukang sihir atau santet. Bahkan ikut serta memperlancar. Maka, tuhan tidak akan memaafkan, selama mereka belum bertabaut dengan sesungguhnya
Jumat, 13 Juli 2012
Ketika TUHAN menebar Pengampunan
Jadilah generasi ROBBANI bukan generasi RAMADHANI
Generasi Rabbani tak kenal henti. Ia terus bergerak dalam upaya mendekatkan diri kepada Rabb nya. Hingga tak jarang ia harus mengesampingkan keinginan hawa nafsunya untuk sesuatu yang lebih besar di sana. Ia beribadah tak mengenal waktu dan tempat. Bibir mereka selalu basah dengan dzikir dan perkataan mereka tidak ada yang sia- sia. Hadirnya selalu dirindu bak oase di padang pasir.
Keimanan bukan musiman. Ia harus selalu hadir dalam setiap waktu, bersama siapa pun, dan dalam kondisi bagaimana pun. Ramadhan hendaknya menjadi ajang latihan bagi kita untuk menghadirkan diri kita kembali sesuai fitrahnya. Ramadhan adalah saat yang tepat untuk mencharge kembali ruhiyah kita agar mampu bertahan hingga 11 bulan ke depan.
Keberhasilan Ramadhan terlihat dari kondisi kita di 11 bulan lainnya. Ini adalah indikator bahwa kita memang dianjurkan untuk menjadi sosok Rabbani, bukan Ramadhani. Ibadah harus terus memuncak setiap waktu, hati harus terus merendah dalam perjalanan hidup, dan pikiran harus tetap terjaga dalam setiap langkah. Itulah suksesnya Ramadhan yang sesungguhnya.
Ramadhan secara tidak langsung akan membentuk pribadi yang demikian ketika kita benar- benar memandang moment ini sebagai moment perbaikan. Tidak ada satu kegiatan pun yang tak bernilai pahala di bulan ini, bahkan tidur seorang muslim yang berpuasa juga adalah ibadah. Luar biasa.
Generasi Rabbani adalah harapan kita bersama. Mewujudkannya tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Oleh karena itu, mari manfaatkan Ramadhan sebaik mungkin. Tekadkan dalam hati bahwa kita adalah muslim yang beriman namun bukan musiman. Jadilah generasi Rabbani.
Selasa, 10 Juli 2012
Indahnya Ramadhan
Ramadhan merupakan bulan yang
sangat istimewa. Bulan yang
ditunggu-tunggu pecinta surga.
Pernahkan kita berpikir mengapa
demikian saudaraku?? Hal tersebut
karena pada bulan ini
pintu-pintu surga dibuka,
pintu-pintu ibadah, amal, dan
taqarrub (mendekatkan diri)
kepada Ilahi terbuka lebar, pintu-
pintu neraka ditutup dan syaitan-
syaitan dibelenggu. Bulan dimana
dijanjikan oleh_Nya
rahmat (karunia), maghfirah
(ampunan), dan itqun min al-nar
(pembebasan dari api neraka).
Puasa akan membangunkan hati
Mukmin yang ‘tertidur’ merasa
selalu diawasi Allah sehingga
mencegah kemungkaran. Perut
yang kenyang dapat memandulkan
perasaan sehingga menjadikan hati
keras, menyuburkan sikap liar, dan
maksiat kepada Allah dan sesama
manusia tetapi dengan puasa kita
dapat merasakan kelaparan sesama
sehingga menimbulkan empati bagi
sesama dan solidaritas sesama
muslim. Betapa indahnya bulan ini
yang merupakan wahana memupuk
solidaritas antar umat manusia.
Dan pada akhir bulan
keutamaannya disempurnakan
dengan kewajiban membayar zakat
fitrah sebagai manifestasi puncak
solidaritas sosial tersebut.
Keutamaan dan keistimewaan
paling besar bulan ini adalah
bahwa Allah swt. telah memilihnya
menjadi waktu turunnya Al-Qur’an.
Inilah keistimewaan yang tidak
dimiliki oleh bulan lain selain bulan
Ramadhan yang penuh berkah ini.
Allah swt. mengistimewakan
dengan menyebutkannya dalam
kitab-Nya bahwa “Bulan Ramadhan
adalah bulan yang di dalamnya
diturunkan (permulaan) Al-Qur’an
sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara
yang haq dan yang batil).” (Al-
Baqarah:185). Ramadhan adalah
bulan Al-Qur’an.
Rasulullah saw. pernah bersabda
mengenainya, Puasa dan Al-Qur’an
itu akan memberikan syafaat
kepada hamba di hari kiamat.
Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku
telah menghalangi-nya dari makan
dan syahwat, maka perkenankanlah
aku memberikan syafa ‘at
untuknya.’ Sedangkan Al-Qur’an
akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah
menghalanginya dan tidur di
malam hari, maka perkenankan
aku memberikan syafaat untuknya
(HR. Imam Ahmad dan Ath
Thabrani). Jiwa, ruh, dan pemikiran
manusia pada bulan Ramadhan
akan menghindari tuntutan-
tuntutan jasmani dan
memperbanyak pada sisi ruhiah.
Dalam keadaan seperti ini, ruh
manusia berada di puncak
kejernihannya, karena ia tidak
disibukkan oleh syahwat dan hawa
nafsu. Ketika itu ia dalam keadaan
paling siap untuk memahami dan
menerima ilmu dari Allah swt.
Karena itu, bagi Allah, membaca Al-
Qur’an merupakan Ibadah paling
utama pada bulan Ramadhan yang
mulia.
Keistimewaan lainnya dibulan
Ramadhan adalah bahwa Allah
SWT membuka peluang lebar-lebar
bagi kita untuk membersihkan
dosa dan kesalahan yang selama ini
dilakukan asal kita melaksanakan
puasa Ramadhan dengan landasan
iman dan ikhlas serta tidak
melakukan dosa-dosa besar.
Kesalahan adalah manusiawi.
Muslim yang baik bukanlah orang
yang tidak pernah melakukan
kesalahan, karena itu tidak
mungkin. Sudah menjadi tabiat
manusia melakukan kesalahan dan
kekhilafan. Di samping dorongan
hawa nafsu dan tarikan lingkungan
juga karena memang setan telah
berjanji akan terus menggoda
manusia. Akan tetapi, kata Nabi,
sebaik-baik orang yang melakukan
kesalahan adalah yang bersegera
bertobat. Betapa indahnya bulan
ini, dimana Allah membuka pintu
ampunan lebar-lebar atas segala
dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan
yang telah kita lakukan apbila kita
mau bertobat. Tentang hal ini, Nabi
menyatakan ”Siapa saja yang
berpuasa pada bulan Ramadhan
dengan landasan iman dan ikhlas
akan diampuni dosa-dosanya yang
telah lalu. (HR Ahmad)”. ”Shalat
lima waktu, Jumat ke Jumat, dan
Ramadhan ke Ramadhan
menghapus dosa di antaranya
selama dosa-dosa besar dijauhi.
(HR Muslim)”.
Betapa mulianya bulan ini, dimana
di dalamnya Allah yang Maha
Pemurah menjadi lebih pemurah
lagi. Dilipatkangandakan-Nya
perhitungan pahala orang yang
berbuat kebajikan. Siapa saja yang
melakukan ibadah sunnah dihitung
melakukan kewajiban dan yang
melakukan kewajiban
dilipatkangandakan pahalanya.
Sesungguhnya engkau akan
dinaungi bulan yang senantiasa
besar lagi penuh berkah, bulan
yang di dalamnya ada suatu malam
yang lebih baik daripada seribu
bulan. Ramadhan adalah bulan
sabar dan sabar pahalanya surga.
Ramadhan adalah bulan pemberian
pertolongan dan bulan Allah
menambah rezeki orang Mukmin.
(HR al-Bukhari dan Muslim).
Apa yang akan kita peroleh dari
bulan yang mulia ini tergantung
pada diri kita masing-masing.
Semuanya tentu berpulang pada
bagaimana kita memaknai puasa
Ramadhan itu sendiri. Bila puasa
dimaknai sekadar tidak makan dan
minum serta
tidak melakukan yang
membatalkan puasa, tentu hanya
itu pula yang bakal didapat.
Betapa banyak orang berpuasa
tidak mendapatkan apa-apa kecuali
lapar dan betapa banyak orang
yang menghidupkan malam tidak
mendapatkan apa-apa kecuali
begadangnya saja. Apakah itu
pilihan kita saudaraku?? Tentu
tidak. Puasa harus dimaknai lebih
dari sekedar itu, puasa adalah amal
ibadah dimana didalamnya penuh
dengan kebaikaan, kebajikan dan
berkah dimana kita harus
senantiasa menjaga ibadah puasa
kita dari perkara-perkara yang sia-
sia. Mau melewatkan waktu selama
Ramadhan dengan sia-sia atau
meraih keutamaan-keutamaannya
adalah tergantung kemauan dan
pilihan kita.